Diomamedia Blog

Home » Buku Umum » Berhentilah Berbantah dengan Anak Anda (Stop Arguing with Your Kids)

Berhentilah Berbantah dengan Anak Anda (Stop Arguing with Your Kids)

Top Clicks

Blog Stats

  • 4,701 hits

stop arguing 3d cov copy

Betapa menjengkelkan bagi orangtua harus berdebat terus-menerus dengan anak-anak. Kalimat-kalimat seperti “Haruskah aku melakukannya?” dan “Aku tak mau!” yang menjadikan kehidupan keluarga ajang pertengkaran sudah sangat lumrah bagi setiap orangtua. Perdebatan tentang apa saja, mulai dari soal jam tidur, tugas-tugas harian, hingga soal mengerjakan PR, menonton TV, menggunakan komputer, dan jam pulang malam, semuanya menguras kesabaran serta memupus simpati kita terhadap anak. Dalam banyak rumah tangga, upacara adu mulut ini sangat menguras energi emosi, sehingga kehidupan keluarga terasa lebih sebagai beban yang harus ditanggung daripada sesuatu yang patut dinikmati.

Walaupun saya tidak perlu mengatakan pada Anda betapa berbantah dengan anak itu dapat begitu menjengkelkan, saya yakin bahwa kita senantiasa menyadari betapa perbantahan itu bersifat merusak bagi anak dan orangtua. Perbantahan menggerogoti wibawa orangtua. Anak-anak yang selalu membantah memandang orangtua mereka lebih sebagai musuh ketimbang sebagai pribadi-pribadi kokoh yang membimbing serta mendukung mereka. Semua anak menguji orangtua mereka untuk mengetahui sejauh mana mereka bisa mendapatkan yang mereka inginkan. Tetapi, percaya atau tidak, anak-anak perlu merasa bahwa orangtualah yang berwenang. Perbantahan yang terus-menerus itu menggerogoti kewibawaan orangtua dan rasa hormat anak-anak terhadap orangtua. Perbantahan itu juga mengakibatkan anak merasa tidak dihargai serta malu atas inisiatifnya sendiri.

Ketika anak Anda menatap mata Anda dan melihat pantulan dirinya, apakah ia melihat pribadi yang bijak, yang memiliki perasaan serta pendapat yang masuk akal, ataukah ia melihat seorang anak yang keras kepala, suka membantah, dan kurang ajar? Yang dipertaruhkan dalam perbantahan yang kronis ini tidak lain dari penemuan anak bahwa ada perasaanperasaan yang boleh ia ungkapkan dan ada perasaan-perasaan yang tidak boleh diungkapkannya.

Anak-anak yang suka membantah merasa diri sebagai sebuah beban. Mengapa? Karena begitulah pandangan orangtua mereka terhadap mereka, bukan?

Untunglah, ada cara untuk mengubahnya. Cara tersebut dinamakan mendengarkan secara responsif. Mendengarkan secara responsif merupakan keterampilan yang memampukan para orangtua menjadi pemegang kendali sewaktu mereka berbicara dengan anak-anak mereka, bukan dengan cara memberikan pelbagai aturan, melainkan dengan mengubah cara berpikirnya. Orangtua harus beralih dari menganggap diri sebagai lawan anak dalam perebutan kendalimenjadi sebagai seorang yang tertarik secara aktif kepada harapan serta pendapat anak. Intinya, orangtua tidak perlu mengabaikan wewenang mereka melainkan menggunakannya untuk mendengarkan anak-anak mereka hingga tuntas sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Apabila Anda membaca buku ini karena Anda lelah dengan segala adu mulut yang terjadi di rumah, saya yakin Anda akan menemukan bahwa mendengarkan secara responsif dapat membantu Anda. Meskipun beberapa konsep dalam buku ini bisa jadi sudah sangat Anda kenal, konsep-konsep lainnya mungkin baru bagi Anda. Setahu saya, bila konsep mendengarkan secara responsif dilakukan secara tulus, perubahan besar akan terjadi pada semua hubungan Anda, bukan hanya pada hubungan antara Anda dengan anakanak Anda.

Mendengarkan secara responsif memiliki tujuan yang berbeda dengan teknik-teknik lain yang sudah kita kenal seperti “mendengarkan dengan aktif”. Tujuan mendengarkan secara responsif bukan semata-mata merefleksikan perasaan atau mengulangi perkataan anak dengan kata-kata Anda melainkan lebih untuk memancing anak agar ia mau mengutarakannya, dan orangtua mendengarkan, memahami, serta mengakui pendapat serta harapan anak. Mendengarkan secara responsif bukanlah cara untuk mengakali anak dengan berpura-pura memahami perasaan mereka. Mendengarkan secara responsif lebih merupakan cara baru orangtua untuk mengetahui pikiran serta perasaan anak. Apabila dipraktikkan secara rutin, mendengarkan secara responsif dapat mengubah hubungan orangtua dengan anak, yang mengakibatkan bukan hanya berkurangnya pertengkaran, tetapi juga anak-anak mulai membuka diri pada orangtua mereka. Setelah menjelaskan langkah-langkah penerapan konsep mendengarkan secara responsif ini, saya akan memperlihatkan kepada Anda cara memanfaatkan keterampilan ini dalam bermacam-macam situasi yang menantang.

Meskipun Anda mungkin mendapati bahwa Anda perlu sedikit latihan untuk membiasakan diri dengan konsep mendengarkan secara responsif; Anda akan mendapati bahwa metode ini sangat bermanfaat jika digunakan. Setelah Anda terbiasa menggunakannya, Anda akan menemukan bahwa mendengarkan secara responsif bukan hanya mengurangi perbantahan, melainkan juga memudahkan Anda untuk membuka jalan masuk ke dalam pengalaman batin anak Anda. Itu sebabnya, metode ini sangat bermanfaat dan sangat positif bagi hubungan Anda. Tanyakan pada diri sendiri, berapa persen dari waktu Anda berhubungan dengan anak, Anda rasakan sebagai pertengkaran? Sesering apakah Anda menyebut hubungan Anda dengan anak lebih berupa permusuhan ketimbang bersifat kooperatif ? Dengan mengupayakan secara sungguh-sungguh praktik mendengarkan secara responsif, Anda dapat mengubah relasi tersebut menjadi relasi yang lebih baik. Sudah tentu hal tersebut patut diupayakan, bukan?

Lima langkah dari mendengarkan secara responsif itu bersifat langsung dan sangat efektif. Pada banyak lokakarya saya memperoleh ucapan terima kasih yang luar biasa dari para orangtua karena pendekatan ini membawa perubahan yang luar biasa.

Mendengarkan secara responsif berarti melakukan upaya aktif untuk membuat anak mengutarakan pendapatnya, untuk mengajak serta mendorong mereka mengatakan secara panjang lebar perasaan serta sudut pandangnya. Bila setelah berkonsultasi dengan saya para orangtua tidak berhasil mengetahui perasaan serta sudut pandang anak dan mereka hanya mendapatkan pengakuan asal-asalan dari anak yang mereka kira sebagai perasaan anak, saya berasumsi bahwa saya belum menjelaskan metode tersebut secara memadai. Untunglah, dalam pelbagai lokakarya dan sesi-sesi terapi, saya berkesempatan untuk menjelaskan langkah yang penting itu. Sebagai hasil dari semua pembicaraan tersebut, saya berharap di sini sebagai penulis, saya lebih mampu menjelaskan dengan tepat cara mengaplikasikan metode mendengarkan secara responsif.

Tentu saja mendengarkan secara responsif tidak akan mengakhiri semua perbantahan dari anak-anak Anda. Orangtua tidak selalu berhasil dalam mencegah terjadinya perbantahan. Meskipun demikian, pada hakikatnya Anda dapat mengurangi perbantahan dan meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan perbantahan tersebut. Sebagaimana akan saya jelaskan dalam buku ini nanti, mendengarkan secara responsif dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk menghilangkan perasaan terluka yang muncul setelah pertengkaran antara orangtua dengan anak bahkan setelah luka itu terjadi.

selengkapnya, silahkan baca bukunya langsung…

SINOPSIS

Buku ini sangat baik dan bermanfaat sebagai panduan bagi orangtua, pendidik, konselor,terapis, psikolog, dan rohaniawan. Ditulis dengan sangat lugas, disertai berbagai contoh dalam kehidupan nyata dan uraian singkat, menjelaskan tentang teori, proses, dan pentingnya mendengarkan dan memahami perasaan anak untuk menghindari adanya perdebatan dari awal. Bagi para orangtua yang lelah dengan rengekan, kemarahan, atau “perang” yang terus-menerus dengan anak karena masalah membersihkan kamar, mengerjakan PR, penggunaan komputer, dan berbagai macam masalah yang tak terhingga banyaknya, buku ini boleh Anda sebut sebagai “berkah dari Tuhan”. Bagi pendidik, konselor, terapis, psikolog, dan rohaniawan, buku ini bisa digunakan sebagai sumber rujukan. Buku ini terbagi menjadi 3 pokok bahasan, bagaimana mendengarkan secara responsif, bagaimana menerapkannya ,dan komplikasi yang menjelaskan bila keluarga sudah mempunyai anak usia remaja dan ketika perbantahan tidak bisa dihindarkan. Buku yang Anda pegang ini sesungguhnya tidak hanya memberikan kontribusi positif bagi orangtua, untuk menciptakan mekanisme psikologis yang nyata dan jelas dalam hubungan antara orangtua dan anak, namun juga memberikan saran dan kiat-kiat praktis untuk sungguh-sungguh mendengarkan anak.

Detail
Judul Berhentilah Berbantah Dengan Anak Anda
ISBN 978-979-26-1457-2
Pengarang Michael P. Nichols
Halaman 406
HARGA NORMAL Rp 66.000
HARGA ONLINE (disc. 20%) Rp 52.800 (belum termasuk ongkir)
Tag Psikologi

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: